Misterius.co.id — Universitas Lampung (Unila) membuka peluang lebih luas bagi sivitas akademika untuk mengakses beasiswa dan jejaring pendidikan global melalui Sosialisasi Program Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 2026 yang digelar secara daring pada Kamis, 23 April 2026.
Kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi Unila dalam memahami arah kebijakan pendanaan pendidikan tinggi sekaligus menangkap peluang kolaborasi internasional. Langkah tersebut dinilai selaras dengan upaya pengembangan sumber daya manusia, penguatan riset unggulan, serta kebutuhan strategis pembangunan nasional.
Dalam pemaparannya, Kepala Subdivisi Kerja Sama LPDP, Asman Muammar, menyoroti skema kemitraan atau co-funding sebagai salah satu peluang utama. Skema ini membuka akses kerja sama dengan berbagai universitas terkemuka di sejumlah negara seperti Australia, Inggris, Prancis, Jepang, Irlandia, hingga Tiongkok.
Ia menjelaskan bahwa kemitraan LPDP mencakup berbagai bidang strategis masa depan, mulai dari kecerdasan artifisial, semikonduktor, hingga sektor kesehatan dan riset unggulan lainnya. Selain itu, terdapat pula inisiatif kolaborasi dosen melalui skema pendanaan bersama yang mendukung kerja sama internasional, khususnya di bidang semikonduktor.
“Aspek kolaborasi ini penting, termasuk dukungan terhadap dosen Unila dalam menjalin kerja sama riset dengan universitas luar negeri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Asman juga memaparkan sejumlah program unggulan lainnya, seperti Presidential Fellowship, program doktor praktisi untuk riset neuroscience bersama RSPAD Gatot Soebroto, beasiswa kemitraan tata kelola bersama LPS, serta kerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk program pendidikan dokter spesialis. Tak hanya itu, LPDP juga menjalin kolaborasi riset kanker dengan kampus internasional seperti Paris-Saclay, Hiroshima University, dan University of Glasgow.
LPDP turut mengembangkan klaster Beasiswa Strategis yang berfokus pada bidang STEM, serta klaster Ocean yang menitikberatkan pada aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Menurut Asman, meskipun menggunakan skema co-funding, manfaat yang diterima peserta tetap berupa pembiayaan penuh, karena perbedaan hanya terletak pada mekanisme pendanaan antara LPDP dan mitra.
Dari sisi kelembagaan, Unila memandang sosialisasi ini sebagai langkah awal menuju implementasi kerja sama yang lebih konkret. Salah satu rencana yang tengah dipertimbangkan adalah penguatan program 3-1-1, yakni tiga tahun studi di dalam negeri dan satu tahun di luar negeri.
Menanggapi peluang tersebut, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unila, Prof. Ayi Ahadiat, menegaskan kesiapan universitas untuk menindaklanjuti hasil diskusi.
Ia optimistis bahwa kegiatan ini tidak berhenti pada tahap sosialisasi, melainkan berlanjut pada realisasi kerja sama nyata. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan mobilitas akademik, memperkuat kapasitas dosen dan mahasiswa, serta mendorong posisi Unila dalam peta kolaborasi pendidikan tinggi internasional.












