Misterius.co.id — Universitas Lampung (Unila) menyatakan dukungannya terhadap penguatan ekosistem inovasi daerah melalui kehadirannya dalam kegiatan peluncuran Klinik Inovasi yang digelar Pemerintah Provinsi Lampung melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda), Rabu, 11 Maret 2026, di Kompleks Kantor Gubernur Lampung.
Dukungan tersebut ditunjukkan melalui partisipasi perguruan tinggi yang memberikan pandangan mengenai pengembangan inovasi daerah berbasis riset, sekaligus mendorong sinergi dengan pemerintah daerah dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di Provinsi Lampung.
Kehadiran Klinik Inovasi ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam mendorong lahirnya gagasan kreatif yang mampu menjawab tantangan pembangunan serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. Melalui wadah ini, perangkat daerah diharapkan dapat mengembangkan inovasi yang lebih terstruktur, terdokumentasi, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A., yang hadir sebagai narasumber, menekankan pentingnya membangun ekosistem inovasi yang melibatkan berbagai pihak. Menurutnya, inovasi daerah tidak dapat berjalan secara parsial, melainkan harus didukung kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa Klinik Inovasi harus benar-benar berfungsi sebagai ruang pengembangan gagasan, bukan sekadar forum diskusi.
“Klinik inovasi daerah ini memang pemerintah daerah yang punya, klinik diamanahkan untuk mengembangkan inovasi, jadi setiap sektor seharusnya punya ruang untuk melahirkan inovasi sesuai bidangnya,” ujarnya.
Menurutnya, perangkat daerah memiliki potensi besar untuk melahirkan berbagai inovasi yang dapat meningkatkan kinerja pelayanan publik maupun pengembangan sektor ekonomi daerah. Oleh karena itu, inovasi perlu dikembangkan secara sistematis dengan dukungan riset, teknologi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Prof. Ayi juga menegaskan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan inovasi daerah. Perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui kegiatan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat yang dapat menghasilkan berbagai solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Ia mencontohkan berbagai hasil riset di perguruan tinggi dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat maupun sektor industri.
“Di perguruan tinggi itu ada penelitian, ada pengabdian kepada masyarakat. Hasil-hasil itu sebenarnya bisa menjadi inovasi kalau didorong sampai pada hilirisasi,” katanya.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam memperkuat inovasi daerah. Kampus dapat berperan sebagai pusat pengembangan pengetahuan dan teknologi, sementara pemerintah daerah berperan dalam mengimplementasikan inovasi tersebut melalui kebijakan dan program pembangunan.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya dukungan perlindungan hak kekayaan intelektual terhadap hasil inovasi yang dihasilkan masyarakat maupun institusi. Dengan adanya perlindungan tersebut, inovasi yang lahir tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan sektor industri.
Sementara itu, Kepala Balitbangda Provinsi Lampung, Yurnalis, S.IP., M.Si., yang mewakili Gubernur Lampung, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perubahan global saat ini menuntut pemerintah daerah untuk bekerja lebih adaptif, responsif, dan inovatif.
Menurutnya, inovasi menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat daya saing daerah. Melalui inovasi, pemerintah daerah dapat menghadirkan solusi yang lebih efektif dalam mengatasi berbagai keterbatasan sumber daya.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pengukuran Indeks Inovasi Daerah oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Lampung telah melaporkan 48 inovasi dengan skor kematangan 52,89 dan memperoleh predikat inovatif.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa yang terpenting bukan sekadar jumlah inovasi yang dilaporkan, melainkan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
“Yang terpenting bukanlah predikatnya, tetapi apakah inovasi tersebut mempermudah pelayanan, mempercepat proses, menghemat anggaran, dan benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Yurnalis, Klinik Inovasi diharapkan menjadi ruang kolaborasi dan inkubasi gagasan bagi perangkat daerah dalam mengembangkan berbagai ide inovatif. Melalui fasilitas ini, perangkat daerah dapat memperoleh pendampingan dalam merancang, mengembangkan, hingga melaporkan inovasi daerah secara lebih sistematis.
Ia juga menegaskan bahwa inovasi tidak selalu identik dengan teknologi tinggi. Inovasi dapat lahir dari penyederhanaan prosedur pelayanan, digitalisasi sistem kerja, maupun pengembangan model pemberdayaan masyarakat yang lebih efektif.
Dengan diluncurkannya Klinik Inovasi, pemerintah daerah berharap dapat membangun budaya kerja yang lebih kreatif, adaptif, dan berorientasi pada hasil. Selain itu, inovasi juga diharapkan mampu memperkuat tata kelola pemerintahan sekaligus mendorong peningkatan daya saing daerah.
Yurnalis pun mengajak seluruh perangkat daerah untuk memanfaatkan Klinik Inovasi sebagai mitra strategis dalam mengembangkan gagasan serta solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan di Provinsi Lampung. (Fariza)












