Misterius.co.id – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM U) Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Lampung sukses menggelar Studium Generale dan Pelantikan Pengurus dengan tema “Mahasiswa sebagai Katalisator Perubahan serta Pusat Gerak Menuju Industri 5.0 dan Indonesia Emas 2045” di Gedung Serbaguna (GSG), Senin, 6 April 2026.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Rektor Unila Lusmeilia Afriani, Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman, serta Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana.
Turut hadir akademisi dan pejabat kementerian, seperti Dr. Budiyono, S.H., M.H., Tin Latifah, S.P., M.Si., CGCAE., QIA., serta Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D., Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Ketua BEM U KBM Unila terpilih, Aditiya Putra Bayu, menegaskan bahwa BEM bukan sekadar pelengkap sistem, melainkan representasi mahasiswa yang memiliki fungsi kontrol terhadap kebijakan publik.
“Kami memposisikan diri sebagai indera kritis pemerintahan. Kami siap berkolaborasi jika kebijakan berpihak kepada rakyat, dan akan terus mengawal jika sebaliknya,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Rektor Unila menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi momentum penting dalam membentuk kepemimpinan mahasiswa yang berintegritas.
Mahasiswa, lanjutnya, memiliki peran strategis sebagai agen perubahan, penjaga nilai, dan penggerak sosial dalam menghadapi tantangan menuju era Industri 5.0 dan visi Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Gubernur Lampung menyampaikan empat pesan penting bagi pengurus BEM yang baru dilantik, yakni menjaga idealisme, menghadirkan solusi, memperkuat kolaborasi, serta menciptakan warisan (legacy) yang berdampak.
“BEM adalah laboratorium kepemimpinan, gagasan, dan pengabdian. Amanah ini bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab moral,” tegasnya.
Dalam sesi pemaparan materi, Habiburokhman mengajak mahasiswa untuk keluar dari berbagai “mitos” gerakan mahasiswa, seperti eksklusivitas dan sikap oposisi yang kaku terhadap kekuasaan. Ia menekankan pentingnya berpikir kritis, sistematis, dan tetap membumi di tengah masyarakat.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi mahasiswa untuk memperkuat kontribusi nyata bagi masyarakat, tidak hanya aktif dalam organisasi, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan semangat kolaborasi dan kepemimpinan yang progresif, mahasiswa Unila diharapkan mampu berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi studium generale yang menghadirkan berbagai narasumber untuk memberikan wawasan strategis di era Industri 5.0.












