Lampung Selatan

Di Balik Riuh Ombak, 13 Wanita Helau Muncul Membawa Perubahan

×

Di Balik Riuh Ombak, 13 Wanita Helau Muncul Membawa Perubahan

Sebarkan artikel ini
Di Balik Riuh Ombak, 13 Wanita Helau Muncul Membawa Perubahan
13 perempuan inspiratif dinobatkan sebagai “Wanita Helau” pada puncak Hari Kartini di Pantai Semukuk Indah, sebagai simbol peran perempuan dalam mendorong kemajuan Lampung Selatan. Dok: Ist

Misterius.co.id — Deru ombak yang tak pernah benar-benar diam di Pantai Semukuk Indah menjadi latar yang seolah menyimpan pesan—bahwa dari tempat yang tenang, lahir kekuatan besar. Pada peringatan Hari Kartini ke-147 di Lampung Selatan, Selasa (21/4/2025), 13 perempuan dipanggil ke depan. Bukan sekadar untuk dihormati, tetapi untuk dikenang jejaknya.

Mereka disebut “Wanita Helau”. Sebuah gelar yang mungkin terdengar sederhana, namun menyimpan makna lebih dalam dari sekadar penghargaan. Di baliknya, ada kisah tentang dedikasi, kerja sunyi, dan pengabdian tanpa sorot kamera.

Acara yang digelar di ruang terbuka ini bukan kebetulan. Plt Kepala Dinas PPPA Lampung Selatan, Nessi Yunita, menyiratkan bahwa alam dipilih sebagai saksi—seolah ingin menyatukan semangat Raden Ajeng Kartini dengan denyut kehidupan masyarakat pesisir.

Di hadapan para undangan, Wakil Bupati Lampung Selatan, Muhammad Syaiful Anwar, menyampaikan bahwa perjuangan Kartini belum usai. Ia hanya berganti wajah—menjadi perempuan-perempuan masa kini yang bergerak tanpa banyak suara, namun berdampak nyata.

Sementara itu, dari layar virtual, Radityo Egi Pratama menegaskan bahwa kekuatan perempuan justru sering lahir dari ruang yang tak terlihat—rumah, komunitas kecil, hingga sudut-sudut ekonomi lokal yang jarang tersorot.

Satu per satu nama dipanggil. Dari birokrasi, pendidikan, UMKM, hingga dunia digital. Mereka bukan tokoh besar di panggung nasional, namun di wilayahnya masing-masing, jejaknya terasa. Ada yang menggerakkan ekonomi, ada yang menjaga suara publik, ada pula yang menyalakan harapan lewat pendidikan.

Di sela penghargaan itu, capaian lain turut mencuri perhatian. TK IT Al Mumtaza meraih pengakuan nasional sebagai Ruang Bermain Ramah Anak—sebuah tanda bahwa masa depan sedang disiapkan, diam-diam, namun pasti.

Malam itu bukan sekadar seremoni. Ada pesan yang tertinggal di antara angin laut dan cahaya senja: bahwa perubahan sering kali tidak datang dengan gemuruh. Ia hadir perlahan, melalui tangan-tangan yang bekerja dalam diam.

BACA JUGA  Satu Dekade WTP, Pemkab Lampung Selatan Perkuat Transparansi dan Akuntabilitas

Dan mungkin, “Wanita Helau” adalah pengingat—bahwa di balik kemajuan sebuah daerah, selalu ada sosok perempuan yang memilih berjalan tanpa sorotan, namun meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus waktu.