Misterius.co.id — Di tengah kesibukan menyelesaikan tugas akhir dan mengikuti berbagai kompetisi akademik, Benaya, mahasiswa Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (Unila) berhasil menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional.
Dalam wawancara pada Senin (12/1/2025), Benaya mengungkapkan pengalamannya meraih Juara 1 Lomba Esai Matematika Nasional (Lemnas) pada ajang Gema Mahasiswa Matematika (GMM) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) 2025. Ia sukses mengungguli finalis dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Indonesia.
GMM merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan UPI dengan sejumlah cabang lomba, seperti Lomba Esai Matematika Nasional (Lemnas), Cerdas Cermat Matematika (CCM), dan Cerdas Tangkas Matematika (CTM). Kompetisi ini bertujuan meningkatkan mutu pendidikan matematika bagi pelajar dan mahasiswa di Indonesia.
Rangkaian Lemnas GMM UPI 2025 dimulai dengan pendaftaran dan pengumpulan karya pada 1–21 Oktober 2025. Lima esai terbaik diumumkan pada 5 November, dilanjutkan presentasi final pada 29 November, dan pengumuman juara pada 30 November 2025.
Tahun ini, tema besar yang diangkat adalah “Peran Statistik dalam Mengungkap Ketimpangan Sosial di Indonesia.” Tema tersebut langsung menarik perhatian Benaya.
“Ini lomba esai, dan temanya sangat sesuai dengan minat saya,” ujar Benaya.
Melalui esai berjudul “Membaca Cerita di Balik Angka: Mengungkap Ketimpangan Sosial Indonesia Melalui Dasbor Interaktif dalam Lensa SDGs,” Benaya menawarkan pendekatan berbeda. Ia tidak hanya menyajikan analisis statistik konvensional, tetapi juga menggagas penggunaan dasbor interaktif sebagai media visual terpadu untuk membaca ketimpangan sosial dari berbagai indikator.
“Ketimpangan sosial itu tidak berdiri sendiri. Indikator SDGs saling berkaitan. Dengan dasbor interaktif, kita bisa melihat persoalan dari banyak sisi sekaligus, seperti panel indikator pada dasbor mobil,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan visual yang sederhana dan mudah dipahami dapat membantu masyarakat awam memahami data ketimpangan sosial, sementara kebijakan tetap menjadi ranah pemerintah dan pemangku kepentingan.
Dalam proses penulisan esai, Benaya menghadapi tantangan besar, terutama manajemen waktu. Ia harus membagi fokus antara tugas akhir dan berbagai kompetisi lain seperti ON MIPA dan lomba Aljabar.
“Saat stuck mengerjakan tugas akhir, saya alihkan waktu untuk mengerjakan esai atau lomba lain. Itu justru membuat saya tetap produktif,” tuturnya.
Ia menambahkan, pendekatan berpikir yang digunakannya sederhana namun kuat, yakni mengenali masalah secara komprehensif dan menawarkan solusi aplikatif. Untuk memperkuat gagasan, Benaya juga menyertakan prototipe dasbor interaktif sebagai bukti bahwa idenya realistis dan dapat dikembangkan.
Momen pengumuman juara menjadi pengalaman emosional baginya.
“Saya bangga bisa membawa nama Unila ke ajang nasional. Puji Tuhan, bisa juara satu dan bersaing dengan teman-teman dari UPI, Teknokrat, dan kampus lainnya,” ungkapnya.
Menurut Benaya, prestasi ini membuktikan bahwa mahasiswa daerah juga mampu bersaing dan menunjukkan kualitas di tingkat nasional.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak, khususnya dosen pembimbingnya, Dr. Bernadhita Herindri Samodera Utami, S.Si., M.Sc., serta keluarga dan civitas akademika FMIPA Unila.
Ke depan, Benaya membuka peluang mengembangkan gagasan dasbor interaktif tersebut sebagai riset lanjutan, platform berbasis web, maupun kerja sama dengan berbagai lembaga untuk mendukung ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat daerah. Namun saat ini, ia memilih fokus menyelesaikan tugas akhirnya.
Menutup wawancara, Benaya berpesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu mencoba.
“Jangan takut mencoba. Kalau tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu. Jangan buru-buru berkata ‘aku tidak bisa’ sebelum membuktikannya. Coba dulu, dan tunjukkan bahwa kita layak meraih hasil terbaik,” pungkasnya.
