Misterius.co.id — Mahasiswi Universitas Lampung (Unila) kembali mengukir prestasi di tingkat internasional. Calesta Adinda, mahasiswi Program Studi S1 Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unila, berhasil meraih penghargaan Best Paper pada 2nd International Colloquium in Medical Biotechnology and Health Sciences (ICMBHS) Tahun 2025.
International Colloquium in Medical Biotechnology and Health Sciences merupakan forum ilmiah internasional yang menjadi wadah pertukaran gagasan, diskusi akademik, serta kolaborasi para peneliti, akademisi, dan praktisi di bidang bioteknologi medis, farmasi, dan ilmu kesehatan.
Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Rabu–Kamis, 14–15 Mei 2025, oleh Fakultas Kedokteran Universitas Lampung bekerja sama dengan Biotechnology Research Institute, Universiti Malaysia Sabah (UMS).
Dalam ajang tersebut, Calesta mempresentasikan penelitian berjudul Analysis of Cadmium (Cd) and Lead (Pb) Levels in Water Samples by Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) at the Lampung Health Laboratory Center, yang berhasil meraih penghargaan Best Paper ICMBHS 2025.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan topik penelitian dilatarbelakangi oleh meningkatnya isu pencemaran logam berat di perairan yang berdampak langsung terhadap kesehatan dan lingkungan.
“Saya memilih topik ini karena pencemaran logam berat di perairan semakin relevan dengan kondisi lingkungan saat ini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai kualitas air serta mendukung upaya pengawasan lingkungan,” ujar Calesta saat diwawancarai melalui WhatsApp, Jumat, 9 Januari 2026.
Dalam penelitiannya, Calesta menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry karena memiliki sensitivitas tinggi, tingkat akurasi yang baik, selektivitas optimal, serta prosedur analisis yang telah terstandar, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Kontribusi utama penelitian ini adalah penyediaan data ilmiah terkait kadar logam berat kadmium dan timbal pada sampel air di wilayah tertentu. Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pengawasan kualitas air, membantu evaluasi risiko kesehatan, mendukung perumusan kebijakan kesehatan lingkungan, serta menjadi referensi bagi penelitian lanjutan.
Meski demikian, Calesta mengakui adanya sejumlah keterbatasan dalam penelitiannya, antara lain jumlah sampel yang masih terbatas, fokus analisis yang hanya mencakup dua jenis logam berat, serta cakupan wilayah pengambilan sampel yang belum luas.
“Ke depan, saya berharap penelitian ini dapat dikembangkan dengan jumlah sampel yang lebih besar, analisis parameter logam yang lebih beragam, serta kajian mengenai dampak paparan terhadap kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Sebagai penutup, Calesta berpesan agar mahasiswa tidak ragu untuk berpartisipasi dalam forum ilmiah internasional. Mahasiswi asal Krui, Kabupaten Pesisir Barat, tersebut menegaskan bahwa latar belakang daerah bukanlah penghalang untuk berprestasi di tingkat global.
Menurutnya, keberanian untuk memulai, konsistensi dalam belajar, serta kemauan untuk berdiskusi dan berproses menjadi kunci utama. Dengan usaha berkelanjutan, doa orang tua, serta bimbingan dosen, mahasiswa dari daerah memiliki peluang yang sama untuk diakui di forum ilmiah internasional. (Fariza)












