Misterius.co.id – Program mekanisasi pertanian dari pemerintah pusat terkesan hanya menjadi ajang pemborosan anggaran negara.
Bukti nyatanya terlihat di Kabupaten Lampung Selatan, di mana bantuan alat berat bernilai miliaran rupiah dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI dibiarkan menjadi besi tua.
Alat berat berupa ekskavator jenis Pindad 200 tahun pengadaan 2017 tersebut kini kondisinya mangkrak dan memprihatinkan.
Alih-alih mendongkrak produktivitas petani untuk pembukaan atau penggarapan lahan, aset negara ini justru terbengkalai tak terurus selama bertahun-tahun.
Dari pantauan di lapangan, terdapat dua unit ekskavator yang dibiarkan hancur dimakan usia. Satu unit dibiarkan terparkir mati di tengah halaman rumah seorang warga di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Palas.
Ironisnya lagi, satu unit lainnya dibiarkan terperosok dan berkarat di tengah area persawahan di Desa Way Gelam, Kecamatan Candipuro.
Buruknya pemeliharaan dan pengawasan dari instansi terkait maupun pihak penerima bantuan memicu reaksi kekecewaan dari masyarakat sekitar.
Herman, salah seorang warga di Kecamatan Palas, mengkritik keras kondisi tersebut.
Ia menyayangkan barang yang dibeli menggunakan uang rakyat justru tidak memberikan asas manfaat yang panjang.
“Sayang sekali mas, barang harganya miliaran dibiarkan kehujanan kepanasan bertahun-tahun sampai berkarat. Dulu gembar-gembornya untuk bantu petani garap lahan dan saluran air, nyatanya malah jadi pajangan rusak di pekarangan orang. Pengawasannya dari dinas ini ke mana,” cetusnya, Jumat, 17 April 2026.
Herman menambahkan, petani sebenarnya sangat membutuhkan alat berat tersebut jika dikelola dengan sistem yang benar dan transparan.
“Sekarang kabarnya malah mau dilelang karena sudah rusak parah. Ini kan bukti gagal urus. Bantuan turun, tapi tidak dipikirkan biaya perawatan dan operasionalnya,” tambahnya.
Rencana lelang terhadap ekskavator mangkrak ini memang tengah mencuat.
Langkah tersebut dinilai sebagai jalan pintas untuk menghapus jejak kegagalan pengelolaan aset bantuan Kementan di wilayah Lampung Selatan, yang seharusnya bisa menjadi urat nadi penggerak sektor pertanian setempat.












